Preview image

Kami memberi tahu Anda tentang beberapa film menarik tahun 2020 yang mungkin belum Anda lihat.

Tahun 2020 akan tercatat dalam sejarah perfilman sebagai masa yang sangat unik, ketika bioskop tutup selama hampir 4 bulan dan banyak proyek langsung dirilis secara online. Namun, fakta ini sama sekali tidak memengaruhi munculnya film-film baru, ambisius, orisinal, dan menarik.

Hari ini kami mengajak Anda untuk melihat 5 film keren tahun 2020 yang mungkin sudah Anda lewatkan karena promosi yang minim, kekhususan genre, dan sebagainya.

Lovushka Razuma (The Wave)

Lovushka Razuma (The Wave)

Setelah diputar di berbagai festival pada akhir tahun lalu, film "Lovushka Razuma" (juga dikenal sebagai "The Wave" atau "Full Flight") akhirnya tiba di platform digital pada tahun 2020.

Debut penyutradaraan Gille Klabin dengan cara yang sangat menarik dan tidak konvensional menceritakan kisah seorang pria yang memutuskan untuk bersenang-senang setelah hari kerja. Akibatnya, ia mengalami perpaduan unik antara petualangan ala film Martin Scorsese "After Hours", perjalanan narkotika, dan refleksi filosofis ala Carlos Castaneda.

Visual yang bergaya, akting Justin Long yang luar biasa ("Tusk", "Comet"), dan keberanian teknik penyutradaraan baik dalam narasi maupun pemikiran yang diungkapkan, dengan mudah menutupi kekurangan sebagian besar film debut seperti penyuntingan yang tidak merata dan berbagai kesalahan kecil lainnya.

My Dog Stupid (Mon chien Stupide)

My Dog Stupid (Mon chien Stupide)

Yvan Attal lebih dikenal sebagai aktor, tetapi kadang-kadang ia menyutradarai film yang menyentuh tentang hal-hal sehari-hari. Tahun ini, Attal bertindak sebagai sutradara film "My Dog Stupid" berdasarkan novel John Fante "West of Rome".

Kisahnya berpusat pada penulis Henri (diperankan oleh Yvan Attal sendiri), yang memiliki hubungan rumit dengan istri dan anak-anaknya, serta mengalami krisis, baik kreatif maupun pribadi. Secara kebetulan, seekor anjing muncul dalam hidupnya, yang diberi nama Stupid, dan keadaan ini secara signifikan memengaruhi peristiwa yang terjadi di rumah Henri.

Dari deskripsinya, mungkin terlihat seperti film "Hachiko" atau "Marley & Me" lainnya, tetapi pada kenyataannya, anjing dalam film ini tidak memainkan peran kunci dan tidak menarik perhatian penonton, melainkan hanya berfungsi sebagai katalis perubahan dalam hubungan para karakter. Ini adalah kisah keluarga yang hampir biasa dan realistis, yang memberi kesempatan untuk tertawa dan merenungkan keberadaan kita sendiri.

The Vast of Night (The Vast of Time)

The Vast of Night (The Vast of Time)

Tidak jarang seorang sutradara debutan dalam karya besar pertamanya mengakui cintanya pada idola-idolanya, karya mereka, atau era di mana mereka menciptakan mahakarya utama mereka. Andrew Patterson jelas merupakan penggemar Steven Spielberg era 70-an dan 80-an, karena dalam filmnya "The Vast of Night" kita dapat menemukan nuansa "Close Encounters of the Third Kind" dan "The Twilight Zone".

Dalam plotnya, pada akhir 50-an di kota kecil Cayuga, hampir seluruh kota berkumpul untuk pertandingan bola basket tim lokal, sementara penyiar radio Everett dan operator telepon Fay dihadapkan pada suara-suara aneh di frekuensi radio. Kemudian, sebuah panggilan misterius masuk ke stasiun radio dari seorang mantan militer yang mengaku pernah mendengar hal serupa sebelumnya.

Patterson tidak kekurangan keberanian, karena karya debutnya dapat digambarkan sebagai satu percakapan panjang selama hampir 90 menit. Tanpa aksi, dekorasi minimal, anggaran kecil—semua ini tidak menghalangi sutradara untuk membuat film yang kuat, menarik, dan yang terpenting, penuh atmosfer.

Berkat gerakan kamera yang inventif, atribut masa lalu yang mudah dikenali, dan dialog yang menarik, Patterson memberikan penonton perasaan akan datangnya sesuatu yang tidak diketahui. Bersama para karakter, kita mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dan membedakan realitas dari permainan imajinasi.

The Way Back (Vne Igry)

The Way Back (Vne Igry)

Sutradara Gavin O'Connor setelah rilis "The Way Back" dapat dengan aman disebut sebagai salah satu spesialis utama dalam menciptakan drama olahraga yang kuat, yang dapat membuat air mata bahkan pria tangguh. Jika dalam "Warrior" sang sutradara menggunakan pertarungan MMA untuk menceritakan kisah hubungan keluarga yang rumit, maka dalam karya barunya, bola basket menjadi latar untuk mengatasi krisis pribadi.

Karakter Ben Affleck, Jack, adalah mantan bintang bola basket, tetapi tragedi keluarga dan masalah alkohol telah mengubah hidupnya menjadi neraka. Karena prestasi masa lalunya, ia diundang untuk menjadi pelatih tim yang pernah ia pimpin sendiri. Kesempatan kedua tidak sering datang, tetapi memanfaatkannya tidak semudah kelihatannya.

O'Connor memberikan Affleck salah satu peran terbaik dalam kariernya dan kesempatan untuk menunjukkan kepada penonton rasa sakit yang sebenarnya dialami aktor terkenal itu belum lama ini. Meskipun tidak ada yang benar-benar baru dalam film ini, ia mampu membangkitkan emosi yang tulus, dan itu sangat berharga.

The Lodge (Storozhka)

The Lodge (Storozhka)

Horor, sebagai genre film modern yang paling progresif, terus menyenangkan penonton dengan munculnya nama-nama baru dan karya-karya keren dengan berbagai tema. Dalam film "The Lodge", duo sutradara Severin Fiala - Veronika Franz menceritakan tentang konsekuensi berada di sekte dan bahwa kekejaman anak-anak adalah hal yang menakutkan, bukan dengan cara kekanak-kanakan.

Dalam plotnya, jurnalis Richard (Richard Armitage) menemukan cinta baru (Riley Keough), yang tidak disambut baik oleh kedua anaknya (Jaeden Martell dan Lia McHugh). Untuk mempererat ikatan keluarga, pria itu memutuskan untuk mengirim kekasihnya dan anak-anaknya berlibur ke rumah pedesaan, tanpa menyadari apa yang mungkin terjadi.

"The Lodge" memiliki semua atribut film horor yang bagus—atmosfer yang terasa, adegan menakutkan (tanpa jumpscare yang tidak beralasan), alur cerita yang tidak terduga. Pada saat yang sama, ini lebih dari sekadar horor, karena mengangkat tema yang benar-benar penting dan tidak terlalu klise, dan akting inspiratif dari Riley Keough yang serba bisa semakin membedakan film ini dari banyak perwakilan genre lainnya.

Baca juga: Apa yang Ditonton di Jaringan: 14 Premiere Musim Semi yang Mungkin Anda Lewatkan