Hal paling sering yang saya lihat dalam teks penulis muda adalah penilaian tanpa argumen. “Aktingnya luar biasa”, “skenarionya brilian”, “atmosfernya menakjubkan” — ini adalah emosi tanpa dukungan fakta. Maknanya seperti mencoba menjelaskan warna magenta kepada orang yang buta sejak lahir.

Sebagai contoh, ambil peran Joaquin Phoenix dalam “Joker”.

⛔️
“Joaquin Phoenix berakting dengan brilian — aktingnya memukau dan tidak melepaskan”

❇️
“Phoenix hampir tidak berbicara di paruh pertama film — ia eksis dengan tubuh: bahu membungkuk, tawa gugup yang ia coba redam dengan tangannya sendiri. Ketika Arthur Fleck akhirnya mulai berbicara dengan suara penuh, kamu mengerti mengapa diam lebih penting daripada kata-kata”

Apakah Anda merasakan perbedaannya? Pada opsi kedua — pengamatan konkret, bukan penilaian asal-asalan.

Lalu bagaimana cara menulis? Apa yang harus dijadikan acuan? Coba skema: pernyataan → contoh dari film/serial → mengapa itu penting.

Jika Anda menulis “aktingnya bagus” — berhenti dan tanyakan pada diri sendiri: apa yang sebenarnya bagus? Gerak tubuh? Tatapan? Kecepatan bicara?

Iseng-iseng ambil teks terakhir Anda dan cabut kata sifat penilaian dari kalimat. Jika maknanya tidak terganggu — berarti kata itu tidak diperlukan. Dan bagaimana jika membersihkan seluruh teks?

#SaranEditor@the_rrated