Hampir tiga puluh tahun para astronom yakin bahwa objek 1998 SH2 adalah asteroid biasa. Orbitnya dihitung dengan cermat, diamati pada setiap pendekatan yang nyaman ke Bumi dan tidak menemukan sesuatu yang tidak biasa. Namun pada tahun 2025, terjadi peristiwa yang membuat para ilmuwan sepenuhnya mempertimbangkan kembali sifatnya. Ternyata selama ini objek tersebut sama sekali bukan "batu mati", melainkan komet yang sangat redup, yang tanpa disadari menguap dan perlahan mengubah orbitnya sendiri. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy (Artikel asli Eng).

Mengapa Ini Penting

Bagi kebanyakan orang, perbedaan antara asteroid dan komet hanya pada keberadaan ekor yang indah. Sebenarnya perbedaannya jauh lebih dalam. Asteroid sebagian besar terdiri dari batu dan logam, sedangkan komet mengandung banyak es. Ketika komet mendekati Matahari, es mulai menguap, membentuk semburan gas. Semburan ini bekerja seperti mesin jet mini dan mampu sedikit mengubah lintasan terbang objek.

Jika komet semacam itu tampak seperti asteroid biasa, timbul masalah serius. Para astronom menghitung orbit masa depannya hanya berdasarkan hukum gravitasi, padahal kenyataannya objek tersebut terus-menerus menerima percepatan tambahan. Bagi sebagian besar benda langit, perbedaan ini tidak signifikan, tetapi selama puluhan tahun kesalahan itu perlahan terakumulasi. Bagi objek yang secara periodik melintas di dekat Bumi, ini sudah menjadi masalah keamanan planet.

Selain itu, jika komet tersembunyi semacam ini ternyata banyak, para ilmuwan harus merevisi pemahaman modern tentang asal usul air di Bumi dan evolusi benda-benda kecil di Tata Surya.

Apa yang Dilakukan Ilmuwan

Semuanya dimulai dengan cukup tak terduga. Pada Agustus 2025, para peneliti bersiap mengamati 1998 SH2 menggunakan radar Goldstone. Orbit telah dihitung dengan sangat akurat sehingga tidak ada yang mengharapkan kejutan. Namun radar tidak mendeteksi objek di titik yang diperhitungkan.

Setelah pengamatan tambahan, ternyata asteroid tersebut berada sekitar 153 detik busur lebih jauh dari posisi yang diharapkan — kesalahan hampir 19 simpangan baku. Untuk astronomi modern, hal seperti ini hampir tidak mungkin dijelaskan secara kebetulan. Para peneliti kemudian menduga bahwa objek tersebut mengalami percepatan tambahan yang tidak terkait dengan gravitasi. Setelah menambahkan model pancaran gas lemah ke dalam perhitungan, seluruh riwayat pengamatan dari 1998 hingga 2025 tiba-tiba cocok sempurna dengan orbit baru.

Tetapi matematika saja tidak cukup. Perlu melihat sendiri proses penguapan materi. Untuk ini, para ilmuwan menggunakan beberapa teleskop besar sekaligus, termasuk Canada-France-Hawaii Telescope dan Very Large Telescope dari European Southern Observatory. Pada gambar biasa, objek tampak seperti asteroid biasa. Hanya setelah eksposur panjang dan pemrosesan gambar khusus, para peneliti dapat membedakan koma redup dan ekor tipis dengan panjang lebih dari 20 detik busur. Setelah itu, objek tersebut secara resmi mendapat sebutan komet P/1998 SH2.

Apa yang Ditunjukkan Angka

Penelitian ini menarik bukan hanya karena penemuannya, tetapi juga karena jumlah pengukuran yang mengonfirmasinya.

Parameter
Nilai

Periode pengamatan

1998–2025 (27 tahun)


Diameter objek

380 ± 57 meter

Reflektivitas (albedo)

0,058

Jarak minimum ke Bumi pada tahun 2025

0,02 SA (sekitar 3 juta km)


Percepatan non-gravitasi yang terdeteksi

1,4 × 10⁻¹¹ m/s²

Seberapa besar melebihi efek Yarkovsky maksimum yang mungkin

sekitar 10 kali

Perkiraan laju pancaran air

≈1,2 × 10²⁴ molekul per detik

Ukuran partikel debu di ekor

sekitar 400 μm

Objek berpotensi berbahaya dengan orbit serupa

285

Total objek dekat Bumi yang diketahui dari jenis ini

2009

Angka terpenting di sini adalah percepatan. Tampaknya sangat kecil, tetapi bekerja terus-menerus. Itulah sebabnya setelah hampir tiga dekade, objek tersebut berada sangat jauh dari posisi yang diperhitungkan sehingga radar pada awalnya tidak dapat mendeteksinya sama sekali. Kesalahan kecil inilah yang menyebabkan salah satu penemuan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir.

Keterbatasan Penelitian

Meskipun hasilnya meyakinkan, penelitian ini tidak berarti bahwa para astronom tiba-tiba menemukan ratusan komet tersembunyi. Saat ini hanya satu objek yang dibahas. Terlebih lagi, aktivitasnya sangat lemah sehingga ekornya hanya dapat dilihat dengan teleskop terbesar di dunia setelah pemrosesan gambar khusus. Survei langit biasa tidak melihat detail seperti itu.

Para penulis juga menekankan bahwa saat ini tidak mungkin untuk memperkirakan seberapa umum objek semacam itu. Mungkin 1998 SH2 adalah pengecualian langka. Atau mungkin, komet "tersamar" semacam itu jauh lebih banyak di antara asteroid yang diketahui. Jawaban atas pertanyaan ini hanya dapat diberikan oleh survei langit generasi berikutnya, terutama observatorium Vera Rubin, yang akan mulai memotret hampir seluruh langit yang terlihat secara teratur dengan sensitivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Apa yang Dapat Berubah dalam Satu Tahun dan Lima Tahun

Dalam satu tahun, para peneliti kemungkinan besar akan mulai memeriksa ulang asteroid dekat Bumi yang sudah diketahui secara massal. Alih-alih mencari ekor yang terlihat, mereka akan menganalisis penyimpangan orbit terkecil, mencoba menemukan tanda-tanda penguapan materi tersembunyi yang sama.

Dalam lima tahun, konsekuensinya bisa jauh lebih besar. Jika ternyata sebagian besar asteroid yang berpotensi berbahaya sebenarnya adalah komet yang aktif lemah, model penilaian risiko tabrakan dengan Bumi harus direvisi. Selain itu, data baru dapat mengubah pemahaman tentang peran komet dalam pengiriman air ke Bumi muda.

Akhirnya, penelitian ini secara tak terduga kembali ke misteri objek antarbintang Oumuamua. Salah satu fitur utamanya adalah percepatan non-gravitasi yang tidak dapat dijelaskan tanpa ekor yang terlihat. Sekarang para ilmuwan memiliki contoh nyata bahwa hal seperti itu memang mungkin terjadi: sebuah komet dapat tetap hampir tidak terlihat selama puluhan tahun, sambil terus perlahan mengubah lintasannya.