Selamat datang di penjara Indonesia, di mana geng-geng membagi wilayah per sentimeter persegi, dan hiburan hanya berupa perkelahian, tarian, dan doa. Tambahkan kekuatan gaib yang memutilasi orang dengan estetika instalasi seni modern, dan Anda akan mendapatkan “Hantu di Dalam Kandang” — film yang jelas dibuat oleh orang-orang yang tidak hanya menonton horor klasik, tetapi juga drama produksi tentang korupsi. Sutradara Indonesia Joko Anwar, yang dikenal karena kecintaannya pada mistisisme pedesaan dan subteks sosial, kali ini memutuskan bahwa satu genre saja tidak cukup, dan dengan murah hati mencampurkan horor, laga, dan komedi terang-terangan ke dalam kuali.
Tentang Apa Film “Hantu di Dalam Kandang”

Jurnalis Dimas menyelidiki penebangan liar di Kalimantan, tetapi berakhir di balik jeruji besi — sistem dengan cepat mencari kambing hitam agar tidak perlu mencari pembunuh sebenarnya dari editornya. Di penjara Labuhan Angsan, di mana kekacauan dan perang sengit antar geng telah berlangsung selama bertahun-tahun, Dimas bergabung dengan kelompok narapidana mulia Anggoro, dan perlahan-lahan teman-teman baru itu menyadari bahwa bersama jurnalis tersebut, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada otoritas lokal telah menyusup ke penjara. Ketika entitas tak terlihat mulai secara selektif membunuh para tahanan, musuh-musuh harus melupakan dendam lama untuk sementara — jika tidak, mereka tidak akan selamat.
Kreativitas dalam Segala Hal

Fokus utama film ini adalah bagaimana sutradara berhasil menggabungkan agenda sosial dengan kegilaan genre tanpa memberikan kesan bahwa Anda menonton dua film berbeda yang digabungkan secara tergesa-gesa.
Anwar membangun rantai korupsi yang dapat dikenali di seluruh penjuru planet: bisnis menghancurkan alam, media menutupinya, polisi menyingkirkan yang tidak diinginkan, dan penjara menjadi titik akhir dari sistem penindasan — dan semua ini secara harfiah dalam beberapa adegan pertama.
Sementara itu, hantu tidak memilih korban secara acak, tetapi berdasarkan aura paling “beracun”, memaksa para preman tangguh untuk melakukan latihan pernapasan, membaca doa selama perkelahian, dan bahkan menari — dan di sinilah film tiba-tiba berubah menjadi parodi pedas dari budaya perusahaan berpikir positif yang dipindahkan ke balok penjara.

Adegan pembunuhan patut disebutkan secara khusus: untuk setiap kematian, seorang ilustrator yang berbeda dilibatkan, sehingga hantu tidak bekerja seperti pembunuh berantai, tetapi seperti seniman pertunjukan dengan tanda tangan visual pribadi pada setiap mayat.
Pada saat perkelahian, film kadang-kadang merosot menjadi kekonyolan terang-terangan di ambang lelucon — seolah-olah para penulis skenario menonton “Kung Fu Hustle” dan memutuskan bahwa sedikit koreografi konyol dan kekerasan karikatural tidak akan merusak suasana. Kebrutalan di sini berdampingan dengan absurditas yang hampir seperti badut, dan justru kontras inilah yang mencegah kebosanan.
Apa yang Merusak Kesan

Masalah utamanya adalah tempo. Hampir setengah dari durasi film dihabiskan untuk memperkenalkan galeri narapidana yang luas. Masing-masing memiliki dialog, lelucon, dan keyakinan agama sendiri, dan ini tentu saja berfungsi untuk mengembangkan karakter, tetapi hantu seolah-olah terjebak di pos pemeriksaan, menunggu semua dokumen selesai. Namun, dialog dan adegan sehari-hari yang lucu mengimbangi penundaan ini — karakter-karakter terungkap melalui interaksi yang hidup, sehingga film menjadi cukup hangat, bukan sekadar wahana mutilasi.
Ada juga masalah dengan keterusterangan. Anwar kadang-kadang tidak mempercayai gambarannya sendiri dan membuat karakter mengucapkan dengan lantang apa yang sudah jelas tanpa kata-kata — penjara sudah terbaca sebagai negara mini, tidak perlu setiap sepuluh menit memasang poster petunjuk tentang apa yang sedang dikritik dari sistem. Selain itu, referensi politik lokal, yang pasti lebih tajam bagi penonton Indonesia, di luar negeri terdengar seperti daftar keluhan umum terhadap “negara buruk pada umumnya” — ketajamannya hilang dalam perbedaan konteks budaya.
Apakah Layak Ditonton

“Hantu di Dalam Kandang” adalah contoh langka dari horor yang tidak takut untuk menjadi lucu, sosial, dan benar-benar berdarah pada saat yang sama, dan justru kerakusan genre inilah yang membuatnya lebih menarik daripada film horor rata-rata tentang balas dendam gaib. Pada saat-saat terbaiknya, film ini terasa seperti film besar, berisik, dan tulus tentang kemarahan yang tidak diizinkan keluar secara legal. Saya merekomendasikannya kepada mereka yang bosan dengan horor satu dimensi dan siap memaafkan tempo yang tidak merata demi ide orisinal dan eksekusi yang mengesankan.
Tayang di bioskop mulai 30 Juli.
Komentar
0Belum ada komentar.