Bagaimana cara mengeluarkan aset dari harta pailit? Arkady Popov memutuskan untuk bertindak melalui keluarga. Pertama, ia menghibahkan dua properti komersial kepada putrinya, Elena, yang segera mengalihkannya kepada ibunya, Olga. Dan Olga, pada gilirannya, menjual properti tersebut kepada pihak ketiga. Sekilas, skema ini tampak seperti rantai transaksi biasa. Tetapi ketika semua pihak dinyatakan pailit, ternyata ini adalah upaya untuk menyembunyikan properti dari kreditor.
Mahkamah Agung (perkara No. A41-102080/2022) memeriksa detailnya. Ia membatalkan putusan banding dan kasasi yang mengizinkan memasukkan jumlah yang sesuai dengan nilai properti ke dalam daftar tagihan kreditor. MA menunjukkan bahwa semua transaksi dalam rantai tersebut adalah fiktif, dan para pihak harus bertanggung jawab secara tanggung renteng untuk mengganti kerugian ke dalam harta pailit. Pendekatan ini menghindari penagihan ganda: jika salah satu debitur memenuhi kewajiban, yang lain dibebaskan darinya.
MA juga menegaskan bahwa putri, yang menyetujui penggunaan namanya untuk menyembunyikan aset, tidak dapat menghindari tanggung jawab. Ibu, sebagai pemilik perantara, juga wajib mengganti kerugian. Tanggung jawab tanggung renteng dari semua mata rantai adalah satu-satunya cara untuk mencegah pengayaan yang tidak adil dari harta pailit.
Bagi pengacara yang menangani kepailitan, putusan ini merupakan pedoman penting. Ini menunjukkan bahwa upaya untuk menyembunyikan aset melalui kerabat tidak hanya sia-sia, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi seluruh keluarga.
Komentar
0Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berdiskusi.