Persepsi adalah hal yang sangat selektif. Apa yang bagi satu orang terdengar seperti simfoni yang sempurna, bagi orang lain hanyalah sekumpulan nada.

Saya punya favorit di dunia buku audio. Seorang pembaca yang suaranya menjadi standar bagi saya, yang intonasinya sangat cocok dengan teks dan menciptakan suasana yang ideal. Tetapi begitu melihat ulasan, kenyataan lain terungkap. Para kritikus dan pendengar dengan suara bulat menyatakan bahwa ada yang lain — lebih ekspresif, lebih dalam, lebih 'benar'.

Saya sengaja tidak menyebut nama. Nama di sini bersifat sekunder. Yang penting adalah: mengapa kita begitu sering membiarkan penilaian orang lain mendikte apa yang seharusnya membuat kita kagum? Seni membaca bukanlah matematika, di mana hanya ada satu jawaban yang benar. Ini adalah dialog pribadi, hampir intim, antara suara dan pendengar.

Itulah mengapa saya sangat ingin mendengar pendapat Anda.

Apakah Anda membiarkan diri Anda mendengarkan buku audio, atau tetap setia pada kertas tradisional? Jika ya, cerita apa yang menjadi cerita yang ingin Anda kembali lagi? Dan akhirnya, siapa favorit mutlak Anda di antara para pembaca? Yang timbre dan ritmenya membuat Anda lupa waktu.

Bagikan di komentar. Selalu menarik untuk mengetahui suara siapa yang terdengar di kepala orang lain.