Entah bagaimana dengan cepat dan tanpa terasa saya mencapai akhir dari storyboard penyihir, yang berarti saatnya untuk mengerjakan yang baru πŸ™ƒ

Adegan ini sangat rumit dalam hal penyampaian informasi, logika, emosi, dan secara umum motivasi/pandangan dunia karakter, sehingga untuk pertama kalinya saya menulis draf teks untuk dialog selanjutnya antara Aidan dan Madlen β€” biasanya saya tidak melakukan itu, saya tidak memiliki skenario detail yang jelas, hanya rencana umum. Saya hanya menyimpan di kepala adegan mana yang mengikuti yang mana, kira-kira apa yang terjadi di adegan ini, suasana hatinya, bingkai kunci, dan ke mana akhirnya akan mengarah. Berbagai detail dan dialognya sendiri saya pikirkan pada tahap storyboard, dan tiba-tiba saya repot-repot dan bahkan menyiksa editor hihi. Dan akhir-akhir ini saya sangat giat mengasah dialog itu sendiri, berusaha membuatnya lebih hidup dan ringkas, karena Anda ingat bagaimana karakter saya suka ngobrol πŸ˜‚ Tapi meskipun dengan segala usaha, saya masih harus menggambar setidaknya 7 halaman adegan di loteng.

Saya juga tidak melupakan para Pemimpi, saat ini saya sedang menyelesaikan line art untuk halaman baru. Sekali lagi saya tersandung saat menggambar tangan dari pergelangan tangan hingga bahu, tetapi dengan tekun saya meningkatkan bagian anatomi ini, dikelilingi oleh foto dan referensi πŸ₯² Setelah menyelesaikan bagian pekerjaan ini, saya akan mengirimkannya ke Dikiy untuk diwarnai dan kemudian mulai mengerjakan storyboard Penyihir, jadi nantikan kelanjutan (dan penyelesaian) adegan di donasi dalam waktu dekat.