Dengan pemikiran ini saya tertidur kemarin, merenungkan mengapa pemasaran sering dipandang sebelah mata
Sebenarnya, semuanya akan masuk akal jika mempertimbangkan
👉 peningkatan taraf hidup (kondisi yang lebih mudah bagi generasi Z dan Alpha dibanding milenial),
👉 munculnya AI (mendapatkan rencana tugas tanpa perlu berpikir),
👉 digitalisasi massal dan penyebaran kerja jarak jauh...
Ambang batas masuk ke bidang ini menjadi sangat rendah sehingga siapa pun bisa mengaku sebagai 'marketer' atau 'Head of PR'. Padahal, yang dilakukan hanyalah menulis postingan, mengatur iklan, menciptakan slogan yang menjengkelkan, dan strategi licik untuk memanipulasi pelanggan.
Tidak, itu semua level amatir yang ingin menghasilkan uang di internet dan mulai belajar dari pelatihan yang penuh disinformasi, ketidakprofesionalan, dan stereotip, mengubah pemasaran menjadi sihir yang entah bagaimana cara kerjanya, dan pelanggan menjadi alien abstrak yang harus dibuat kagum dengan trik yang belum pernah dilakukan siapa pun 😀
Bagi saya, pemasaran adalah:
👉 bagaimana menyempurnakan produk agar diterima sebagaimana mestinya;
👉 bagaimana memastikan pelanggan tidak bingung dan mencapai hasil yang bermanfaat bagi mereka;
Orientasi pada pelanggan! Bukan semua ini — 'kita harus menekan audiens', 'buatlah tempat yang ramai, biarkan mereka melihat iklan, produk tidak penting'
Dan jika hanya melihat ke arah
'Kita harus menurunkan biaya akuisisi pelanggan, masalahnya ada di sumber, semua sumber buruk, kita harus menemukan sumber ideal dengan biaya 1 sen per pelanggan. Dan kita ganti positioning untuk ke-20 kalinya dengan yang lebih trendi, pasti pasar akan kita kuasai!'
— maka hasil tidak akan pernah tercapai, karena masalahnya tidak terselesaikan secara fundamental.
➡️ Tentang faktor-faktor yang perlu dikembangkan untuk kesuksesan proyek, saya tulis di rencana pemasaran saya
➖➖➖➖➖➖
Komentar
0Belum ada komentar.